Portofolio < 850, Guru tidak Profesional?

Posted: 10/02/2009 in Pendidikan
Tag:

guru
Yah saya dari awal tidak begitu perduli soal sertifikasi guru yang menandakan keprofesionalan seorang guru. Mengapa karena dari penilaian portofolio itu lalu diklaim seorang guru berhak menyandang guru yang profesional atau tidak. Tapi semua itu adalah proses yang harus diikuti semua guru di negeri ini demi mendapatkan tunjangan profesi guru (TPG). Siapapun akan mau sih dapat tambahan penghasilan. Tapi caranya itu loh… Saya dari awal juga berpikir bahwa acara pensertifikasian model seperti sekarang ini adalah akal-akalan agar guru tidak begitu saja menerima TPG yang semenjak dulu mungkin menjadi haknya.

Coba kita pikir berapa panjang proses dan besarnya dana yang harus dikeluarkan untuk oleh pemerintah yang konon itu makai uang rakyat. Mulai dari pembentukan panitia sertifikasi di level pusat hingga sampai lembaga asesor di PT tiap wilayah, penggajian honor tiap periode, dll, belum lagi bagi guru harus menyiapkan seoonggok-segepok arsip yang tersisa demi tercapainya skor 850 itu. Berapa biaya yang harus “disia-siakan” untuk kepentingan yang semestinya tidak harus seperti itu.

Semua guru yang sudah lulus dan yang lulus melalui diklat/plpg (atau apalah sebutannya) apakah itu sudah layak menyandang guru profesional? Jawabannya tentu tidak semuanya lantas sekonyong-konyong jadi guru yg “profesional”. Coba rekan guru renungkan apakah demikian. Kalau menurut saya mereka yang dinyatakan lolos (atau lulus yah?) hanya terpilih untuk mendapatkan TPG lebih dulu saja. Bersyukurlah karena itu hak kita kalau memang kita guru yang benar-benar menjalan tugas dengan sungguh-sungguh dan benar. Soal profesionalitas yah nanti dulu deh.

Begitu pula rekan guru yang dengan portofolio belum mencapai skor yg ditetapkan itu, anda belum tentu otomatis tidak profesional dalam bekerja. Hanya harus berpayah-payah dikit untuk mendapatkan TPG. Selanjutnya toh mengajar yah seperti dulu lagi saja. Hanya jam wajib ngajarnya saja mesti 24 JP tatap muka. Selanjutnya pemerintah tak akan ambil pusing soal profesionalitas kita kok, yah seperti biasanyalah budaya mumpung ada proyek. Jadi jangan terlalu pusing soal sertifikasi dan sejenisnya.

Dari banyak mekanisme yang semula ketat harus begini begitu perlahan dipermudah juga aturan main dalam sertifikasi itu. Apakah ini menunjukkan kesriusan soal dalih menjaga kualitas/profesionalitas guru. Nonsen deh kalau yang ini. Kalau mendapat antrian mendapatkan TPG sih iya. Tapi bagaimanapun sedikit niat baik dari penguasa kita hargai, toh akhirnya semua guru tersertifikasi, hingga sulit lagi membedakan mana sih guru yang profesional dengan yang tidak. Sebab kita tahu batasan tegas soal profesionalitas itu akan semu selamanya.

Lucunya lagi dari peraturan pemerintah bahwa guru yang sudah berpendidikan S2/S3 langsung mendapatkan kemudahan untuk tidak perlu lagi mengumpulkan bukti portofolio layaknya mereka yang tidak berpendidikan S2/S3 itu. Memang sih keberhasilan guru mengajar itu banyak sekali aspek yang perlu dipandang. Apakah hanya karena berpendidikan S2/S3 atau karena semua siswanya pinter-pinter (yang kebanyakan memang ini bawaan sejak awal siswa masuk atau mungkin memang sejak lahir sih anak memang udah hebat bawaannya) atau karena alasan lain yang bisa dibuat oleh sang penilai.

Beberapa di antara rekan guru ada yangmau bertindak culas-curang agar skor portofolionya mencapai standar skor yang ditetapkan, mulai dan pemalsuan ini itu. Bagi rekan guru yang seperti saya sebut terakhir sadarlah soal sertifikasi bukanlah segalanya. Yakinlah apapun adanya kita semua akan tersertifikasi juga kok. Santai saja lagi. Ini hanya basa-basi belaka yang dilakukan penguasa. Kita tunggu apa tindak lanjut pemerintah soal profesionalitas guru di negeri ini.
Sumber: Urip.WP.Com

<script>function fbs_click() {u=location.href;t=document.title;window.open(‘http://www.facebook.com/sharer.php?u=’+encodeURIComponent(u)+’&=’+encodeURIComponent(t),’sharer’,’toolbar=0,status=0,width=626,height=436′);return false;}</script><a href=”http://www.facebook.com/share.php?u=<url>&#8221; onclick=”return fbs_click()” target=”_blank”><img src=”http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?8:26981&#8243; alt=”” /></a>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s