Cerita Rasulullah SAW Kepada Mu’adz

Posted: 20/01/2009 in Religi
Tag:

Kata Ibnu Mubarak, Khalid bin Ma’dan berkata kepada Mu’adz: “Mohon
diceritakan satu hadits yang terdengar olehmu dari Rasulullah SAW yang kamu
hafal dan kamu ingat setiap hari karena sangat kerasnya haditz itu dan sangat
halus dan sangat mendalamnya hadits tersebut. Hadits manakah menurut tuan yang paling penting?”. Maka jawabnya: “Baiklah akan kau ceritakan.” Kemudian beliau menangis dahulu. Lama sekali menangisnya itu, selanjutnya beliau berkata: “Ehm, sungguh kangen sekali kepada Rasulullah, ingin segera bersua dengan beliau.”

Kemudian dia berkata lagi: “Ketika menghadap kepada Rasulullah SAW beliau
menunggang kuda dan beliau menyuruhku untuk naik dibelakang beliau; kemudian
berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut dan beliau
menengadah ke langit, kemudian bersabda:

“Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang berkehendak kepada makhlukNya menurut
kehendakNya, wahai Mu’adz!”Jawabku: “Ya Sayyidal Mursalin.”
Sabda beliau: “Sekarang aku akan menceritakan satu cerita kepadamu yang apabila dihafalkan olehmu, akan berguna bagimu, tapi kalau disepelekan olehmu, maka kamu tidak akan mempunyai hujjah kelak di hadapan Allah.

“Hai Mua’dz! Allah itu menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh langit dan bumi. Tiap langit ada satu Malaikat yang menjaga pintu. Dan
tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh Malaikat penjaga pintu menurut kadarnya pintu dan keagungannya.

“Maka Malaikat yang memelihara amal si hamba dan mencatatnya naik ke langit
dengan membawa amal si hamba tersebut yang bersinar-sinar cahayanya bagaikan
cahaya matahari. Setelah sampai ke langit pertama, Malaikat Hafadzoh menganggap amal si hamba itu banyak dan muji kepada amal-amal tersebut. Akan tetapi setelah sampai kepada pintu langit pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu langit pertama kepada Malaikat Hafadzoh: “Tamparkanlah amal ini ke muka (wajah) pemiliknya! Saya ini penjaga tukang mengumpat dan saya di perintah untuk tidak menerima tukang mengumpat orang lain itu untuk masuk dan jangan sampai melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.”

“Kemudian keesokan harinya ada lagi Malaikat Hafadzoh naik kelangit dengan
membawa amal shalih yang berkilauan cahayanya yang dianggap oleh Malaikat
Hafadzoh begitu sangat banyaknya serta dipuji. Namun begitu sampai kelangit
kedua (yang lolos dan selamat dari langit pertama sebab pemilik amal shalih
tersebut tidak suka mengumpat) berkatalah Malaikat di langit kedua:
“Berhentilah dan tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, sebab dengan
amalnya itu, dia berharap keduniaan. Allah memerintahkan kepadaku harus menahan amal ini jangan sampai lewat kepada langit yang lain. Maka Malaikat semuanya
melaknat kepada orang tersebut samapai sore.”

“Ada lagi Malaikat Hafadzoh yang naik dengan membawa amal hamba Allah yang
sangat memuaskan penuh dengan sedekah, puasa dan bermacam-macam kebaikan yang
oleh Malaikat Hafadzoh dianggap demikian banyaknya dan di puji. Akan tetapi
sampai di langit ketiga, berkatalah Malaikat penjaga langit ketiga:
“Berhentilah, tamp[arkanlah ke wajah pemiliknya amal ini, saya Malaikat penjaga kibir (orang yang sombong) Allah memerintahkan kepadaku agar amal ini tidak melewati pintuku dan jangan sampai ke langit berikutnya. Salahnya sendiri dia takabbur kepada orang lain di dalam perkumpulan.”

Singkatnya, Malaikat Hafadzoh naik ke langit dengan membawa amal hamba yang
lain dan bersinar bagaikan bintang yang paling besar. Suaranya gemuruh penuh
dengan tasbih, puasa, shalat, naik haji dan umrah. Begitu sampai ke langit ke
empat, Malaikat penjaga langit ke empat itu berkata: “Berhentilah jangan
dilanjutkan, tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, saya ini penjaga ujub
dan Allah memerintahkan kepadaku agar amal ini jangan sampai lewat, sebab jika dia beramal selalu ujub.”

Kemudian naik lagi Malaikat Hafadzah dengan membawa amal hamba yang diiringi
seperti pengantin perempuan diiring kepada suaminya. Begitu sampai ke langit
kelima dengan membawa amal yang begitu bagus, seperti jihad, ibadah haji,
ibadah umrah, cahanya pun berkilauan bagaikan matahari. Berkata Malaikat
penjaga langit kelima: “Saya ini penjaga sifat hasud, nah dia itu yang amalnya demikian bagus itu suka hasud/iri kepada orang lain atas kenikmatan Allah yang diberikan kepadanya. Jadi dia itu membenci kepada orang yang meridlokan kepada nikmat Allah (benci nikmat). Saya diperintahkan oleh Allah jangan membiarkan amal itu untuk emlewati pintuku ke pintu yang lain.”

Kemudian Malaikat Hafadzah naik lagi dengan membawa amal yang lain berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji dan umrah sehingga sampailah ke langit yang keenam dan berkata Malaikat penjaga pintu ini: “Saya ini Malaikat penjaga pintu Rahmat, nah amal yang seolah-olah bagus ini tamparkanlah ke wajah pemiliknya, salahnya sendiri bahwa dia itu belum pernah mengasihi orang lain.
Apabila ada orang yang mendapatkan musibah dia merasa senang. Aku diperintahkan oleh Allah bahwa amalnya ini jangan melewatiku, supaya jangan samapai kepada yang lain.”

Dan naik lagi Malaikat Hafadzah ke langit dengan membawa amal si hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad dan wara’. Suaranya punbergemuruh seperti geledek, cahayanyapun bagaikan kilat. Begitu sampai ke langit ketujuh, berkata Malaikat penjaga langit yang ketujuh itu: “Saya ini penjaga sum’ah (ingin masyur), sesungguhnya si pengamal ini ingin termasyur dalam kumpulan-kumpulan dan selalu ingin tinggi di saat berkumpul dengan
kawan-kawannya yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin.
Allah memerintahkan kepadaku agar amalnya itu jangan sampai melewatiku dan
jangan sampai kepada yang lain. Dan tiap-tiap amal yang tidak bersih karena
Allah, maka itulah riya. Allah tidak akan menerima dan mengabulkan amalnya
orang-orang yang riya.”

Kemudian Malaikat Hafadzah itu naik lagi dengan membawa amalnya hamba yakni:
shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak yang baik dan pendiam tidak banyak
omong, Dzikir kepada Allah. Kemudian diiring oleh Malaikat kelangit ketujuh
sehingga sampai menerobos hijab-hijab dan sampailah ke khadirat Allah. Para
Malaikat itu berdiri dihadapan Allah. Semuanya menyaksikan bahwa amal ini
adalah amal shalih, yang diikhlaskan karena Allah.

Tapi firman Allah: “Kalian adalah Hafadzah, pencatat amal hambaKu, sedang
Akulah yang mengintip hatinya, amal yang ini tidak karena Aku, yang dimaksud
olehnya itu adalah selain daripadaKu, tidak diikhlaskan kepadaKu. Aku lebih
mengetahui daripada kamu apa yang dimaksud olehnya dengan amalnya itu. Aku
laknat mereka, menipu kepada orang lain dan juga menipu kepadamu
(Malaikat-Malaikat Hafadzah) Tapi Aku ini tidak akan tertipu olehnya. Aku ini
yang paling tahu akan hal yang ghaib-ghaib.. Akulah yang melihat isinya hati,
dan tidak akan samar kepadaKu setiap apapun yang samar, tidak akan tersembunyi bagiKu setiap apapun yang sembunyi. PengetahuanKu atas apa yang telah terjadi, sama dengan pengetahuanKu akan apa yang bakal terjadi. PengetahuanKu atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuanKu kepada apa yang akan datang. PengetahuanKu kepada orang-orang yang terdahulu sebagaimana pengetahuanKu kepada orang-orang yang kemudian.

“Aku lebih tahu atas apapun yang lebih samar daripada rahasia, bagaimana akan
bisa hambaKu dengan amalnya itu menipu kepadaku, bisa juga mereka itu menipu
kepada makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang Mengetahui
kepada yang ghaib-ghaib. LaknatKu tetap kepadanya.”

Kata ketujuh Malaikat dan 3000 Malaikat yang menyertai: “Ya Tuhan, dengan
demikian tetaplah laknatMu dan laknat kami semua bagi mereka.”

Maka semua yang ada dilangit mengucapkan: “Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang-orang yang melaknat.”

Sayyidina Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) kemudian menangis dengan
terisak-isak, dan berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari apa yang diceritakan baru saja?”

Sabda Rasulullah SAW.: “Hai Mu’adz, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan!”

Aku bertanya kembali: “Gusti tuan ini adalah Rasulullah, sedang saya ini adalah si Mu’adz bin Jabal bagaimana saya bisa selamat dan bagaimana saya bisa terlepas dari bahaya tersebut?”

Bersabda Rasulullah SAW.: “Ya begitulah, seandainya dalam amalmu ada
kelengahan, maka tahanlah mulutmu jangan sampai menjelekkan orang lain dan juga kepada saudara-saudaramu sesama Ulama. Apabila kamu hendak menjelekkan orang lain, harus ingat kepada dirimu sendiri sebagaimana engkau pun tahu bahwa dirimupun penuh dengan aib-aib. Jangan membersihkan dirimu dengan
menjelek-jelekkan orang lain. Jangan mengangkat dirimu sendiri dengan menekan
orang lain. Jangan riya dengan amalmu agar amalmu itu diketahui orang lain. Dan janganlah kamu termasuk kedalam golongan orang yang mementingkan keduniaan
dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal
disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik olehmu. Dan janganlah
takabur kepada orang lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia akhirat. Dan jangan berkata kasar dalam satu majlis dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlakmu. Jangan membangkit-bangkit apabila kamu berbuat kebaikan. Jangan merobek-robek (pribadi) orang lain dengan sebab mulutmu,
kelak engkau akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahanam yakni sebagaimana
firman Allah: “WANNAASYITHAATI NASYTHAA”

Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia. Jadi
mengoyak-ngoyak daging dari tulang.

Aku berkata: “Ya Rasulullah, siapa yang kuat menanggung penderitaan semacam
ini.”

Jawab Rasulullah SAW.: “Mu’adz, yang kami ceritakan tadi itu akan mudah bagi
mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT., cukup untuk menggalang semua itu. Kamu harus menyayangi orang lain sebagaimana kamu menyayangi dirimu sendiri. Dan benci kepada orang lain apa-apa yang dibenci oleh dirimu sendiri. Apabila
demikian maka kamu akan selamat dan pasti dirimu akan terhindar.

Kata Khalid bin Ma’dam (yang meriwayatkan hadits tersebut adari Sayyidina
Mu’adz): “Sayyidina Mu’adz sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya
membaca Al-Qur’an dan mempelajari hadits ini sebagaimana mempelajari Al-Qur’an dalam majlisnya.”

Maka setelah kalian mendengar hadits ini yang demikian luhur beritanya, yang
besar bahayanya dan atsarnya yang menyakitkan. Serasa akan terbang bila hati
mendengarnya serta membingungkan akal dan menyempitkan dada serta penuh dengan hura-hura yang mengagetkan.

Nah, apabila kamu telah mendengarnya, maka kamu harus berlindung kepada
Tuhanmu, Tuhan seru sekalian alam. Diam dipintu, mudah-mudahan saja dibukakan
dengan lemah lembut/merendahkan diri dan mendo’a, menjerit dan menangis
semalam-malaman. Juga disiang hari bersama orang-orang yang merendahkan diri
yang menjerit dan berdo’a kehadirat Allah. Sebab tidak akan bisa selamat dalam urusan ini kecuali dengan adanya rahmat Allah SWT., dan tidak akan bisa selamat dari tenggelamnya di laut ini kecuali dengan penglihatan dan taufiqNya dan inayat daripadaNya.[*]

die *Menuju Mukmin Sejati*
Imam Al-Ghazali

Komentar
  1. jaladri mengatakan:

    Lumayan, bisa untuk menambah keimanan yang sering naik turun. Mudah2an lebih sering menguplod tulisan yang lebih bervariasi lagi, OK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s