Tuhan Tidak Ndeso, Beragama Tak Sekedar Jalani Ritual

Posted: 19/01/2009 in Kebudayaan
Tag:

Dalam pemandangan sehari-hari, kita bisa mudah melihat begitu banyak orang Indonesia yang disibukkan dengan urusan ibadah ritual tapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, dan kelaparan di sekitarnya. Dapatkah Anda melihat hal tersebut? Atau tidak melihatnya karena justru termasuk didalamnya?

Miris rasanya melihat begitu banyak orang lebih menonjolkan simbol atau ritual agama, tapi tidak peduli sesama. Padahal, esensi beragama adalah menjaga keseimbangan hubungan antara individu kepada Tuhannya dan juga hubungan dengan manusia lainnya.

Seringkali kita lihat, begitu banyak uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah sementara lingkungan sekitarnya kumuh. Betapa banyak uang dihamburkan untuk menyelenggarakan upacara keagamaan yang megah disaat jutaan anak Indonesia tidak bisa sekolah, jutaan orang tidak bisa makan, dan tidak bisa membayar rumah sakit ketika sakit meregang nyawa. Betapa banyak orang bisa khusyuk beribadah, bisa haji berkali-kali, atau ziarah berkali-kali ke luar negeri, sementara tetangganya kelaparan. Ironis banget. Berikut ini renungan dari Emha Ainun Najid dari email yang dikirim dari teman saya entah dia dapatnya dari mana:

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun”, kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?”.

Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan”. “Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” , kejar si penanya. “Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu”, jawab Cak Nun.

“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak” , katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi”.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan:

Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.

Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.

Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca Al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal Al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit,dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca Al-Quran, tapi suka beramal,tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca Al-Quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca Al-Quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang. Agama adalah akhlak.

Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap.

Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca Al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.

Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
4 komentar pada warta ini
Kamis, 25-01-2007 14:56:20 oleh: bajoe

setuju, sip. Cuma mau koreksi dikit, kalo kalimatku begini : keshalehan seseorang tidak cukup hanya diukur dari rajinnya shalat, hadir di pura, kuil, kebaktian atau misa. perlu ada keseimbangan antara berdoa dan perbuatan kongkrit. Setuju dengan kata-kata Illian: Agama adalah perilaku, agama adalah sikap. Buat Mbak Illian : plok…plok….plok…..ini tepuk tangan lho, bukan suara orang nampar🙂
Kamis, 25-01-2007 17:01:54 oleh: rudy

setuju mbak… seandainya saja rakyat percaya sama pejabat, maka mungkin orang lebih memilih menyumbangkan uangnya untuk membantu orang-orang miskin dan terlantar daripada buat menunaikan haji berkali-kali. ingat kisah seseorang yang menjadi haji paling mabrur, seorang pria yang hidup di benua afrika.
keinginan berhajinya di batalkan dan hartanya di sumbangkan ke tetangganya yang hidup miskin dan terlantar. ALLAH MAha mengetahui segala niat dan isi hati umat-umat-Nya..SUBHANALLAH…
Jumat, 26-01-2007 14:47:10 oleh: Ardian Syam

Berbuat baik kepada sesama justru merupakan indikasi bahwa iman seseorang sudah sangat baik. Maka saya percaya bahwa jauh lebih kuat iman orang yang sering berbuat baik dibanding orang yang sering (terlihat sedang) beribadah.
Minggu, 15-04-2007 22:40:23 oleh: Bagus Putra

Sudah 2 thn ini saya mengikuti acara bakti sosial-pengobatan gratis yg dilakukan oleh suatu organisasi dgn agama tertentu. Uniknya, organisasi ini tdk pernah membawa nama organisasinya sewaktu melakukan kegiatan sosial ini, melainkan menonjolkan nama organisasi ditempat acara berlangsung. Thn lalu mereka pengadakan pengobatan didaerah sentul dengan membawa nama pamong praja & organisasi kepemudaan disana. Melayani +/- 6 desa dgn jumlah org +/- 500 org. Thn ini mereka menyelenggarakan di daerah Tanggerang bekerjasama dgn salah satu Vihara, melayani +/- 400 org. Jumlahnya memang msh terbatas.

Yg menarik u/ saya adalah cara mereka melakukan hal ini. Tidak membawa nama organisasi ttp menonjolkan organisasi setempat. Untuk masyarakat tentu akan lebih diterima dengan tangan terbuka.
Lebih lanjut untuk pribadi saya, saya dapat melihat betapa bervariasinya kehidupan ini, ditempat yang berbeda dengan masalah yang berbeda. Sebenarnya kita dapat berbuat hal-hal kecil saja untuk dapat menolong, menggembirakan, memperhatikan orang lain.
Disini juga saya melihat sukarelawan yang sudah ‘gado-gado’, lengkap…mau agama apapun ada; suku…jangan ditanya, seru kenalan dengan mereka belum lagi berbagai macam disiplin ilmu…dr yg jago mengatur acara sampai si pak/bu dokter. Walaupun selalu ada kekurangan dlm pelaksanaannya, acarapun selalu berlangsung sukses.

Kalau saya tanya kepada teman-teman itu, alasan mereka bermacam2, mengapa mrk mau ikut kegiatan ini. Tetapi kalau saya boleh mengambil kesimpulan, salah satu alasannya a/ iman mereka yang menggerakkan mereka. Dan dengan ‘berkumpul’ dan ‘melakukan’ hal itu, semoga iman masing-masing orang dapat bertambah. Bukan untuk disombongkan, dipamerkan tetapi untuk di-iman-i.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s