Mutiara Hadis

Posted: 19/01/2009 in Uncategorized

HADIS KETIGA BELAS: LARANGAN BANYAK BICARA DAN PERINTAH UNTUK SERING MENGINGAT MATI

Dari Abi Said Al-Khudri diriwayatkan, bahwa pada suatu hari Nabi Saw masuk ketempat sembahyang, beliau melihat orang banyak pada berbicara. Beliau bersabda, “Andaikata kalian banyak mengingat “pemotong kenikmatan” niscaya kalian tidak banyak berbicara seperti ini, seringlah mengingat pemotong kenikmatan, yakni kematian.”

“Kubur itu bisa merupakcan salah satu kebun surga atau salah satu parit neraka. “

Diceritakan dari Abu Bakar Al-Isma’ili dengan sanadnya dari Usman bin Afan, bahwa apabila mendengar cerita neraka, ia tidak menangis. Bila mendengar cerita kiamat, ia tidak menangis. Namun, apabila mendengar cerita kubur, ia menangis.”

Ada yang bertanya, “Mengapa demikian, wahai Amirul Mukminin?” Usman memjawab, “Apabila aku berada di neraka, aku tinggal bersama orang lain, pada hari kiamat aku bersama orang lain, namun apabila aku berada di kubur, aku hanya seorang diri.”

Kunci kubur dipegang oleh Israfil, dialah yang membuka pada hari kiamat dan ia berkata, “Barangsiapa yang didunianya sebagai penjaranya, maka kuburnya adalah surganya. Barangsiapa yang dunianya adalah surganya, maka kuburnya adalah penjaranya. Barangsiapa kehidupannya diikat oleh dunia, maka kematian merupakan pembebasannya. Dan barangsiapa meninggalkan bagiannya di dunia, maka ia akan memperolehnya di akhirat.”

la berkata, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, membuat rida Tuhan sebelum bertemu dengan-Nya dan memakmurkan kubur sebelum memasukinya.”

Diceritakan dari Hasan Al-Basri, bahwa ia sedang duduk di pintu rumah ketika sedang lewat jenazah seorang laki-laki, di belakangnya banyak orang, sedang di bawah jenazah berjalan seorang anak kecil perempuan dengan rambut terurai sambil menangis.

Al-Hasan mengikuti jenazah. Sedangkan anak perempuan yang di bawah jenazah itu berkata, “Hai bapakku, mengapa tiba hari yang semacam ini dalam hidupku?”

Al-Hasan berkata kepada anak perempuan itu, “Tidak akan datang lagi hari yang seperti ini kepada ayahmu.”

Al-Hasan menyembahyangi jenazah, terus pulang.

Keesokan hari, Al-Hasan pergi ke masjid untuk salat subuh, setelah itu duduk di pintu rumah.

Tiba-tiba ia melihat anak perempuan yang dilihat kemarin lewat sambil menangis dan berziarah menuju makam ayahnya.

“Wahai ayahku, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, siapakah yang menyalakan lampu bagimu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam kuhamparkan alas tidur bagimu, siapakah yang menghamparkan alas tidur bagimu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam kupijit kedua tangan dan kakimu, siapakah yang memijitmu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam kubalik tubuhmu dari satu sisi ke sisi yang lain. Siapakah yang membalikmu tadi malam?” ‘

“Wahai ayahku, kututupi anggota-anggota badanmu yang terbuka kemarin malam, siapakah yang menutupimu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kuberi engkau minuman, siapakah yang memberimu minuman tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam aku merenungi wajahmu, siapakah yang merenungi wajahmu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam engkau memanggil kami dan kami menjawab panggilanmu, siapakah yang engkau panggil tadi malam dan siapakah yang menjawab panggilanmu?”

Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya anak perempuan ini cerdas, sebaiknya kuikuti dia, barangkali ia akan mengucapkan perkataan yang bermanfaat bagiku.”

Al-Hasan mengikuti anak itu. Ketika ia tiba di makam ayahnya, Al-Hasan bersembunyi. Anak perempuan itu memeluk makam sang ayah dan meletakkan pipi di atas tanah seraya berkata, “Wahai ayahku, bagaimana engkau tinggal di dalam kegelapan makam seorang diri tanpa lampu maupun penghibur?”

Wahai ayahku, kemarin malam kuberi engkau makanan ketika engkau ingin makan, apakah tadi malam engkau menyukai makanan dan siapakah yang memberimu makanan?”

“Wahai ayahku, kemarin rnalam aku memasak macam-macam makanan untukmu, siapakah yang memasak makanan untukmu tadi malam?”

Al-Hasan pun menangis dan menampakkan diri kepada anak perempuan itu dan berkata, “Wahai anakku, janganlah engkau mengucapkan kata-kata ini, akan tetapi katakanlah.”

“Wahai ayahku, kami telah menghadapkanmu ke arah kiblat, apakah engkau tetap demikian ataukah telah dihadapkan ke tempat lain?”

“Wahai ayahku, kami telah mengafanimu dengan kafan terbaik, apakah tetap begitu ataukah kafan itu telah ditanggalkan darimu?”

“Wahai ayahku, kami telah meletakkan badanmu di dalam kubur dalam keadaan utuh, apakah engkau tetap bagitu ataukah engkau telah dimakan cacing?”

“Wahai ayahku, para ulama berkata bahwa kubur itu dilapangkan bagi sebagian manusia dan disempitkan bagi sebagian yang lain, apakah kubur itu terasa sempit bagimu ataukah terasa lapang?”

“Sesungguhnya para ulama berkata, bahwa sebagian mereka diganti kafannya dengan kafan dari surga dan sebagian lainnya diganti dengan kafan dari neraka, apakah kafanmu diganti dengan kafan dari neraka atau kafan dari surga?”

“Wahai ayahku, sesungguhnya para ulama berkata, bahwa kubur itu bisa merupakan salah satu kebun surga atau salah satu parit neraka.”

“Wahai ayahku, sesungguhnya para ulama berkata, bahwa kubur itu memeluk sebagian penghuninya seperti ibu yang penuh kasih sayang dan bisa membenci serta menghimpit sebagian manusia hingga tertindih tulang-tulang rusuk mereka, apakah kubur ini memelukmu atau membencimu?”

“Wahai ayahku, para ulama berkata, bahwa siapa yang diletakkan dalam kubur, bila ia seorang yang bertakwa ia pun menyesal karena kurang banyak berbuat kebaikan dan bila ia seorang berdosa ia menyesal mengapa telah melakukan maksiat, apakah engkau menyesal atas dosa-dosamu atau karena sedikitnya kebaikanmu?”

“Wahai ayahku, jika aku memanggilmu tentu engkau menjawab panggilanku dan selama aku memanggilmu di kepala kuburmu mengapa aku tidak mendengar suaramu?”

“Wahai ayahku, engkau telah pergi dan aku tidak bisa berjumpa denganmu hingga hari kiamat, ya Allah janganlah engkau haramkan kami dari pertemuan dengannya pada hari kiamat.”

Kemudian anak perempuan itu berkata,” Hai Hasan, alangkah baiknya perkataan yang engkau ucapkan untuk ayahku dan alangkah baiknya nasihatmu kepadaku dan peringatanmu terhadap orang-orang yang lalai. Setelah itu, pulanglah anak perempuan itu bersama Hasan Basri sambil menangis.

* Jan

HADIS KEEMPAT BELAS : ANJURAN UNTUK BANYAK MEMBACA SURAT IKHLAS

Dari Ali bin Abi Thalib r.a. ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa membaca qul huwallahu ahad sepuluh kali setiap habis salat subuh, ia tidak ditimpa dosa pada hari itu walaupun setan berusaha keras.
Surat Qul huwallahu ahad adalah surat Makyah yang terdiri atas empat ayat, lima belas kata, dan empat puluh tujuh huruf.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. ia berkata:
Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa membaca Qul Huwallahu ahad sekali, seakan ia membaca sepertiga Al Qur’an, barangsiapa membacanya dua kali seakan ia membaca dua pertiga Al Qur’an, barangsiapa membacanya tiga kali seakan ia membacanya seluruh Al Qur’an, dan ba rangsiapa membacanya sebelas kali, Allah mendirikan baginya sebuah rumah di surga dari Yaqut merah. “
Ubay bin Ka’ab, Jabir bin Abdillah, Abal Aliyah, AsySya’bi, dan Ikrimah berkata, bahwa pemuka-pemuka Qurais seperti Amir bin Thufail dan Zaid bin Qais serta lainnya hadir dan berkata, “Hai Muhammad, ceritakanlah
tentang Tuhanmu kepada kami, apakah terbuat dari emas, perak, besi, atau tembaga, sesungguhnya tuhan-tuhan kami terbuat dari bahan-bahan itu.”
Nabi Saw bersabda, “Aku adalah Rasul Allah, sesungguhnya Allah tidak menyerupai sesuatu dan tidaklah aku mengatakan sesuatu tentang dzat-nya dari hawa nafsuku.”
Allah Swt menurunkan surat berikut:
“Katakanlah (hai Muhammad), Allah itu Esa. Allah itu tempat menuju. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menandingi/menyamai-Nya.”

* Jan 19
* admin
* Add a comment
* Uncategorized

Free Web Hosting with Website Builder Adsense Indonesia lowongan kerja di rumah Join 4Shared Now!
HADIS KETIGA BELAS: LARANGAN BANYAK BICARA DAN PERINTAH UNTUK SERING MENGINGAT MATI

Dari Abi Said Al-Khudri diriwayatkan, bahwa pada suatu hari Nabi Saw masuk ketempat sembahyang, beliau melihat orang banyak pada berbicara. Beliau bersabda, “Andaikata kalian banyak mengingat “pemotong kenikmatan” niscaya kalian tidak banyak berbicara seperti ini, seringlah mengingat pemotong kenikmatan, yakni kematian.”

“Kubur itu bisa merupakcan salah satu kebun surga atau salah satu parit neraka. “

Diceritakan dari Abu Bakar Al-Isma’ili dengan sanadnya dari Usman bin Afan, bahwa apabila mendengar cerita neraka, ia tidak menangis. Bila mendengar cerita kiamat, ia tidak menangis. Namun, apabila mendengar cerita kubur, ia menangis.”

Ada yang bertanya, “Mengapa demikian, wahai Amirul Mukminin?” Usman memjawab, “Apabila aku berada di neraka, aku tinggal bersama orang lain, pada hari kiamat aku bersama orang lain, namun apabila aku berada di kubur, aku hanya seorang diri.”

Kunci kubur dipegang oleh Israfil, dialah yang membuka pada hari kiamat dan ia berkata, “Barangsiapa yang didunianya sebagai penjaranya, maka kuburnya adalah surganya. Barangsiapa yang dunianya adalah surganya, maka kuburnya adalah penjaranya. Barangsiapa kehidupannya diikat oleh dunia, maka kematian merupakan pembebasannya. Dan barangsiapa meninggalkan bagiannya di dunia, maka ia akan memperolehnya di akhirat.”

la berkata, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, membuat rida Tuhan sebelum bertemu dengan-Nya dan memakmurkan kubur sebelum memasukinya.”

Diceritakan dari Hasan Al-Basri, bahwa ia sedang duduk di pintu rumah ketika sedang lewat jenazah seorang laki-laki, di belakangnya banyak orang, sedang di bawah jenazah berjalan seorang anak kecil perempuan dengan rambut terurai sambil menangis.

Al-Hasan mengikuti jenazah. Sedangkan anak perempuan yang di bawah jenazah itu berkata, “Hai bapakku, mengapa tiba hari yang semacam ini dalam hidupku?”

Al-Hasan berkata kepada anak perempuan itu, “Tidak akan datang lagi hari yang seperti ini kepada ayahmu.”

Al-Hasan menyembahyangi jenazah, terus pulang.

Keesokan hari, Al-Hasan pergi ke masjid untuk salat subuh, setelah itu duduk di pintu rumah.

Tiba-tiba ia melihat anak perempuan yang dilihat kemarin lewat sambil menangis dan berziarah menuju makam ayahnya.

“Wahai ayahku, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, siapakah yang menyalakan lampu bagimu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam kuhamparkan alas tidur bagimu, siapakah yang menghamparkan alas tidur bagimu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam kupijit kedua tangan dan kakimu, siapakah yang memijitmu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam kubalik tubuhmu dari satu sisi ke sisi yang lain. Siapakah yang membalikmu tadi malam?” ‘

“Wahai ayahku, kututupi anggota-anggota badanmu yang terbuka kemarin malam, siapakah yang menutupimu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kuberi engkau minuman, siapakah yang memberimu minuman tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam aku merenungi wajahmu, siapakah yang merenungi wajahmu tadi malam?”

“Wahai ayahku, kemarin malam engkau memanggil kami dan kami menjawab panggilanmu, siapakah yang engkau panggil tadi malam dan siapakah yang menjawab panggilanmu?”

Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya anak perempuan ini cerdas, sebaiknya kuikuti dia, barangkali ia akan mengucapkan perkataan yang bermanfaat bagiku.”

Al-Hasan mengikuti anak itu. Ketika ia tiba di makam ayahnya, Al-Hasan bersembunyi. Anak perempuan itu memeluk makam sang ayah dan meletakkan pipi di atas tanah seraya berkata, “Wahai ayahku, bagaimana engkau tinggal di dalam kegelapan makam seorang diri tanpa lampu maupun penghibur?”

Wahai ayahku, kemarin malam kuberi engkau makanan ketika engkau ingin makan, apakah tadi malam engkau menyukai makanan dan siapakah yang memberimu makanan?”

“Wahai ayahku, kemarin rnalam aku memasak macam-macam makanan untukmu, siapakah yang memasak makanan untukmu tadi malam?”

Al-Hasan pun menangis dan menampakkan diri kepada anak perempuan itu dan berkata, “Wahai anakku, janganlah engkau mengucapkan kata-kata ini, akan tetapi katakanlah.”

“Wahai ayahku, kami telah menghadapkanmu ke arah kiblat, apakah engkau tetap demikian ataukah telah dihadapkan ke tempat lain?”

“Wahai ayahku, kami telah mengafanimu dengan kafan terbaik, apakah tetap begitu ataukah kafan itu telah ditanggalkan darimu?”

“Wahai ayahku, kami telah meletakkan badanmu di dalam kubur dalam keadaan utuh, apakah engkau tetap bagitu ataukah engkau telah dimakan cacing?”

“Wahai ayahku, para ulama berkata bahwa kubur itu dilapangkan bagi sebagian manusia dan disempitkan bagi sebagian yang lain, apakah kubur itu terasa sempit bagimu ataukah terasa lapang?”

“Sesungguhnya para ulama berkata, bahwa sebagian mereka diganti kafannya dengan kafan dari surga dan sebagian lainnya diganti dengan kafan dari neraka, apakah kafanmu diganti dengan kafan dari neraka atau kafan dari surga?”

“Wahai ayahku, sesungguhnya para ulama berkata, bahwa kubur itu bisa merupakan salah satu kebun surga atau salah satu parit neraka.”

“Wahai ayahku, sesungguhnya para ulama berkata, bahwa kubur itu memeluk sebagian penghuninya seperti ibu yang penuh kasih sayang dan bisa membenci serta menghimpit sebagian manusia hingga tertindih tulang-tulang rusuk mereka, apakah kubur ini memelukmu atau membencimu?”

“Wahai ayahku, para ulama berkata, bahwa siapa yang diletakkan dalam kubur, bila ia seorang yang bertakwa ia pun menyesal karena kurang banyak berbuat kebaikan dan bila ia seorang berdosa ia menyesal mengapa telah melakukan maksiat, apakah engkau menyesal atas dosa-dosamu atau karena sedikitnya kebaikanmu?”

“Wahai ayahku, jika aku memanggilmu tentu engkau menjawab panggilanku dan selama aku memanggilmu di kepala kuburmu mengapa aku tidak mendengar suaramu?”

“Wahai ayahku, engkau telah pergi dan aku tidak bisa berjumpa denganmu hingga hari kiamat, ya Allah janganlah engkau haramkan kami dari pertemuan dengannya pada hari kiamat.”

Kemudian anak perempuan itu berkata,” Hai Hasan, alangkah baiknya perkataan yang engkau ucapkan untuk ayahku dan alangkah baiknya nasihatmu kepadaku dan peringatanmu terhadap orang-orang yang lalai. Setelah itu, pulanglah anak perempuan itu bersama Hasan Basri sambil menangis.

* Jan 19
* admin
* Add a comment
* Hikmah Dibalik Carita

Free Web Hosting with Website Builder Adsense Indonesia lowongan kerja di rumah Join 4Shared Now!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s